Setelah
menyampaikan materi dalam Pelatihan Kader dengan pengetahuan yang masih
meraba-raba, akhirnya saya memulai pekerjaan di lapangan. Ya, saya akan live in
di desa dan melakukan perekrutan sponsorship. Saya tinggal di sebuah desa yang
cukup terisolir, sulit sinyal dan tanpa listrik. Rumah-rumah hanya mengandalkan
lampu tenaga surya ataupun Genset. Bahkan kami juga membawa genset kecil ke
desa. Tinggal di desa tersebut selama 4 hari dan bekerja cukup padat membuat
saya banyak belajar. Budaya, kehidupan, keterbatasan namun sungguh saya
menikmatinya. Apabila ditanya, di tempat manakah pengalaman live in paling
berkesan tentunya saya akan menjawab di Bajawa!
Foto saat live in di Bajawa, di bukit ini tempat kami biasa mencari secercah sinyal |
Sempat
berdiskusi dengan si senior, kami pun memutuskan nekat berangkat ke Riung di
akhir pekan. Sepulang dari desa kami bergegas menuju ke terminal dan mencari
travel mana yang akan berangkat ke Riung, setelah menemukan dan meminta nomor
HP kami pun kembali ke rumah, membongkar ransel dan langsung mengisinya kembali
dengan kebutuhan selama perjalanan nekat nantinya. Kami pun menaiki travel
mobil Avanza dengan jumlah penumpang 7 orang. Perjalanan ditempuh selama 3 jam
lebih, kami tiba di Riung saat hari sudah gelap dan ditunjukkan penginapan
Bintang Wisata Riung. Kamarnya cukup bersih dengan harga 200.000/malam tanpa AC
dan kami pun siap untuk kepanasan berdua. Setibanya disana seorang tukang kapal
datang dan menawarkan kami paket sehari, jadi ceritanya besok pagi dia akan
membawa rombongan bule Jerman yang menyewa setengah hari. Kami membayar sekitar
500.000 untuk 2 orang sudah termasuk makan dan sewa fin+life jacket. Ohh ya Pulau-pulau di Riung sebenarnya tidak berjumlah 17 tetapi 23 (kalau saya tidak salah mendengar), 17 hanyalah simbol tanggal kemerdekaan Indonesia.
Perairan Riung yang tenang |
Kami memulai perjalanan pukul 06.00 dan
snorkeling di Taman Laut, ini adalah pengalaman pertama saya melakukan
snorkeling dan tentunya sangat menyenangkan, meskipun saya melihat banyak juga
terumbu karang yang telah rusak. Saya tidak sempat mengambil foto-foto
underwater berhubung saat itu saya belum mempunyai kamera underwater kesayangan
(update menyusul). Setelah snorkeling disana kami dibawa ke sebuah pulau,
tetapi kami cukup kecewa karena banyaknya sampah. Dari situ kami berpindah ke
Pulau Tiga dan disini terumbu karangnya PICAHH (ngikutin istilahnya orang
Kupang), saya cukup puas melihat warna-warni karang dan ikan-ikan lucu. Sesuai
kesepakatan, kami akan ditinggalkan sementara di Pulau Payung dengan
pertimbangan disitu masih ada sinyal dan ada wisatawan lain. Tukang kapal
berjanji akan kembali menjemput kami berdua setelah mengantarkan rombongan
Jerman tersebut ke darat. Bermodal kepercayaan tersebut, kami pun mengambil
barang-barang dan menunggu di pulau tersebut. Selama 2 jam menunggu tanpa
tempat berteduh dan baju kami yang tertinggal di kapal sungguh menyiksa. Saya
sempat menceritakan hal ini kepada seorang teman dan dia tertawa melihat
kepasrahan kami, kemudian bertanya
X : “Itu
kalian main percaya aja, kebayang gak kalo misalnya dia ga ngejemput kalian?”
S :
“Yahhh…percaya aja lah ngapain dia kabur, kan kita belum bayar”
X : “Kalo
misalnya kapalnya terbalik, kalian ga bisa nelpon trus apakah kalian akan
menunggu sendiri di pulau kosong dan berharap ada kapal yang lewat???”
S: “Hmmm….”
Yahh
begitulah ketika rasa excited melampaui segala logika, kami pun mencoba
bertahan di pulau yang hanya ada beberapa payung parasol yang hampir semuanya
bolong. Pasrah merelakan kulit terbakar, kami hanya berharap kapal segera tiba
dan bisa berteduh. Setelah menunggu kurang lebih 2 jam, kami melihat kapal
mendekat dan langsung berlari agar dapat berteduh dan makan siang. Kami pun
menikmati menu makan siang berupa ikan bakar, mie, dan sambal terong. Rasanya
biasa saja, tetapi karena sudah lapar ya pasti enak. Setelah makan, kami diajak
naik ke sebuah bukit dan melihat pemandangan dari puncaknya. Ya, saya melihat
gradasi laut yang indah dan berikut fotonya
View dari Puncak Pulau Payung, Riung |
![]() |
Puas memandang
dari bukit yang dipenuhi semak-semak kering, kami kembali menaiki kapal dan
menuju Pulau Kalong. Disini pertama kalinya saya melihat sebuah pulau yang
dipenuhi Kalong menggantung di pohon-pohon kering dan kemudian kalong
berterbangan. Jujur saya sempat bergidik melihatnya, apalagi si Om Tukang Kapal
mengatakan bahwa di pulau ini masih ada Komodo dan kabarnya memiliki warna
berbeda dengan komodo yang kita kenal selama ini.
Kalong-kalong yang membuat saya bergidik |
Beberapa menit disana, kami
pun dibawa ke sebuah spot snorkeling dan kembali melihat terumbu karang. Saya
melihat bahwa spot ini sepertinya cocok untuk diving karena sangat dalam dan
ada titik curam. Saya juga kembali melihat ada banyak terumbu karang yang rusak
akibat bom ikan. Konon Taman Laut Riung terkenal di tahun 80-90 an dan dipenuhi
oleh turis asing, tapi melihat kenyataan seperti ini ketika rumput laut
mengambang di permukaan Taman Laut dan sampah yang menumpuk di pantai apa yang
akan terjadi ke depannya? Satu sisi kita menentang ketika pantai-pantai indah
dijadikan resort mahal oleh orang asing, lihatlah apa yang terjadi di Riung
bahkan loket tiket masuk pun sering tidak dijaga apalagi kebersihan dan terumbu
karang. Ya pada akhirnya mari kita merenung kembali….Hmmm kami akan kembali ke
darat, mandi, istirahat dan menahan perihnya sunburn sebelum kembali ke Bajawa
esok hari.
Komentar
Posting Komentar