In 2015 cerita Flores kerja sosial menulis NTT traveling

Taman Laut Riung 17 Pulau

Setelah menyampaikan materi dalam Pelatihan Kader dengan pengetahuan yang masih meraba-raba, akhirnya saya memulai pekerjaan di lapangan. Ya, saya akan live in di desa dan melakukan perekrutan sponsorship. Saya tinggal di sebuah desa yang cukup terisolir, sulit sinyal dan tanpa listrik. Rumah-rumah hanya mengandalkan lampu tenaga surya ataupun Genset. Bahkan kami juga membawa genset kecil ke desa. Tinggal di desa tersebut selama 4 hari dan bekerja cukup padat membuat saya banyak belajar. Budaya, kehidupan, keterbatasan namun sungguh saya menikmatinya. Apabila ditanya, di tempat manakah pengalaman live in paling berkesan tentunya saya akan menjawab di Bajawa!
Foto saat live in di Bajawa, di bukit ini tempat kami biasa mencari secercah sinyal


Sempat berdiskusi dengan si senior, kami pun memutuskan nekat berangkat ke Riung di akhir pekan. Sepulang dari desa kami bergegas menuju ke terminal dan mencari travel mana yang akan berangkat ke Riung, setelah menemukan dan meminta nomor HP kami pun kembali ke rumah, membongkar ransel dan langsung mengisinya kembali dengan kebutuhan selama perjalanan nekat nantinya. Kami pun menaiki travel mobil Avanza dengan jumlah penumpang 7 orang. Perjalanan ditempuh selama 3 jam lebih, kami tiba di Riung saat hari sudah gelap dan ditunjukkan penginapan Bintang Wisata Riung. Kamarnya cukup bersih dengan harga 200.000/malam tanpa AC dan kami pun siap untuk kepanasan berdua. Setibanya disana seorang tukang kapal datang dan menawarkan kami paket sehari, jadi ceritanya besok pagi dia akan membawa rombongan bule Jerman yang menyewa setengah hari. Kami membayar sekitar 500.000 untuk 2 orang sudah termasuk makan dan sewa fin+life jacket. Ohh ya Pulau-pulau di Riung sebenarnya tidak berjumlah 17 tetapi 23 (kalau saya tidak salah mendengar), 17 hanyalah simbol tanggal kemerdekaan Indonesia. 

Perairan Riung yang tenang

 Kami memulai perjalanan pukul 06.00 dan snorkeling di Taman Laut, ini adalah pengalaman pertama saya melakukan snorkeling dan tentunya sangat menyenangkan, meskipun saya melihat banyak juga terumbu karang yang telah rusak. Saya tidak sempat mengambil foto-foto underwater berhubung saat itu saya belum mempunyai kamera underwater kesayangan (update menyusul). Setelah snorkeling disana kami dibawa ke sebuah pulau, tetapi kami cukup kecewa karena banyaknya sampah. Dari situ kami berpindah ke Pulau Tiga dan disini terumbu karangnya PICAHH (ngikutin istilahnya orang Kupang), saya cukup puas melihat warna-warni karang dan ikan-ikan lucu. Sesuai kesepakatan, kami akan ditinggalkan sementara di Pulau Payung dengan pertimbangan disitu masih ada sinyal dan ada wisatawan lain. Tukang kapal berjanji akan kembali menjemput kami berdua setelah mengantarkan rombongan Jerman tersebut ke darat. Bermodal kepercayaan tersebut, kami pun mengambil barang-barang dan menunggu di pulau tersebut. Selama 2 jam menunggu tanpa tempat berteduh dan baju kami yang tertinggal di kapal sungguh menyiksa. Saya sempat menceritakan hal ini kepada seorang teman dan dia tertawa melihat kepasrahan kami, kemudian bertanya
X : “Itu kalian main percaya aja, kebayang gak kalo misalnya dia ga ngejemput kalian?”
S : “Yahhh…percaya aja lah ngapain dia kabur, kan kita belum bayar”
X : “Kalo misalnya kapalnya terbalik, kalian ga bisa nelpon trus apakah kalian akan menunggu sendiri di pulau kosong dan berharap ada kapal yang lewat???”
S: “Hmmm….”
Yahh begitulah ketika rasa excited melampaui segala logika, kami pun mencoba bertahan di pulau yang hanya ada beberapa payung parasol yang hampir semuanya bolong. Pasrah merelakan kulit terbakar, kami hanya berharap kapal segera tiba dan bisa berteduh. Setelah menunggu kurang lebih 2 jam, kami melihat kapal mendekat dan langsung berlari agar dapat berteduh dan makan siang. Kami pun menikmati menu makan siang berupa ikan bakar, mie, dan sambal terong. Rasanya biasa saja, tetapi karena sudah lapar ya pasti enak. Setelah makan, kami diajak naik ke sebuah bukit dan melihat pemandangan dari puncaknya. Ya, saya melihat gradasi laut yang indah dan berikut fotonya
View dari Puncak Pulau Payung, Riung




Puas memandang dari bukit yang dipenuhi semak-semak kering, kami kembali menaiki kapal dan menuju Pulau Kalong. Disini pertama kalinya saya melihat sebuah pulau yang dipenuhi Kalong menggantung di pohon-pohon kering dan kemudian kalong berterbangan. Jujur saya sempat bergidik melihatnya, apalagi si Om Tukang Kapal mengatakan bahwa di pulau ini masih ada Komodo dan kabarnya memiliki warna berbeda dengan komodo yang kita kenal selama ini. 

Kalong-kalong yang membuat saya bergidik

Beberapa menit disana, kami pun dibawa ke sebuah spot snorkeling dan kembali melihat terumbu karang. Saya melihat bahwa spot ini sepertinya cocok untuk diving karena sangat dalam dan ada titik curam. Saya juga kembali melihat ada banyak terumbu karang yang rusak akibat bom ikan. Konon Taman Laut Riung terkenal di tahun 80-90 an dan dipenuhi oleh turis asing, tapi melihat kenyataan seperti ini ketika rumput laut mengambang di permukaan Taman Laut dan sampah yang menumpuk di pantai apa yang akan terjadi ke depannya? Satu sisi kita menentang ketika pantai-pantai indah dijadikan resort mahal oleh orang asing, lihatlah apa yang terjadi di Riung bahkan loket tiket masuk pun sering tidak dijaga apalagi kebersihan dan terumbu karang. Ya pada akhirnya mari kita merenung kembali….Hmmm kami akan kembali ke darat, mandi, istirahat dan menahan perihnya sunburn sebelum kembali ke Bajawa esok hari.

Related Articles

0 komentar:

Posting Komentar

featured Slider