In journey NGO pritta working

Kerja di NGO, Ngapain Aja?



Empat tahun bekerja di Non Government Organization alias Lembaga Non Pemerintah pastinya telah mengubah banyak hal dalam diri saya, tetapi rasanya setiap bertemu orang baru pasti muncul beberapa pertanyaan yang sama. Oke, saya akan menuliskan beberapa pertanyaan umum yang harus kamu jawab dan jelaskan mengenai status pekerjaan mu. Kiranya bisa menjawab beberapa pertanyaan yang sering mampir ke saya atau jika berkenan mungkin bisa menjadi referensi untuk menjelaskan pekerjaan mu saat ini.

1.             Itu kerjanya ngapain aja?
Buanyaakkk, tergantung project, fokusnya, visi misi, Programme Goal, Outcome, Output. Bekerja di NGO pastinya merespon suatu isu sosial, nahh namanya isu social pasti luaaasss sekali. Setelah itu tanyakan saja “Fokus Programnya apa?” Disitu akan muncul istilah pemberdayaan masyarakat, lingkungan, anak, gender, imigran, buruh, pertanian, perikanan, udara, dll. Intinya bekerja di NGO itu men support masyarakat/kaum marjinal atau bahkan pemerintah untuk mengisi hal-hal yang belum tertangani dengan baik. Misalnya nih di Indonesia sendiri masih banyak problem yang belum bisa di address oleh pemerintah untuk isu kesehatan, pendidikan, ekonomi, lingkungan hidup,dll karena keterbatasan negara sendiri, maka NGO hadir untuk melengkapi, membantu kerja pemerintah, dan pastinya membantu masyarakat melalui program yang telah disusun. Jadi NGO itu adalah salah satu aktor penting yang berkolaborasi untuk membangun kesejahteraan suatu bangsa. Tsaaaahhhh…





2.           Kamu digaji gak?
PASTI! Entah berapa pun penghasilan seorang staf (bukan relawan) itu tetap dihitung gaji. Gaji di NGO tergantung pada jumlah dana yang dikelola oleh si NGO. Semakin besar dana yang dikelola, maka semakin tinggi beban kerja dan semakin besar pula gajinya. Strata di NGO adalah NGO lokal, International NGO hingga Lembaga Donor. Nahh bekerja di NGO itu digaji,  jumlahnya pasti berbeda-beda tergantung posisi dan strata NGO nya. Ada juga yang digolongkan dalam staf lokal, staf penempatan dan expatriate. Jadi ya silakan kalkulasi sendiri

3.          Wahh kerja dengan asing, gajinya dollar dong?
Biasanya saya jawab, ‘’ 14 ribu rupiah juga bisa jadi dollar koq di money changer’’ , ‘’Dapat duit dollar emang bisa dipake jajan di kios kecamatan atau desa?’’ Jadi stop mengeluarkan pertanyaan ini, karena setahu saya semua payroll kantor masih menggunakan bank lokal dan bertransaksi menggunakan rupiah selama masih di Indonesia

4.          Duit untuk menjalankan program dan gaji kalian darimana?
Dari donor, bisa macam-macam mulai dari individu, kelompok, CSR, dana alokasi pemerintah dan lembaga donor mainstream kaya Ausaid, USAID, World Bank, European Union, dll (silakan cari sendiri). Uang yang diterima kemudian dialokasikan untuk program dan dibuat pertanggungjawabannya. So, itu yang buat kenapa pengelolaan keuangan di NGO biasanya rigid dan butuh segala macam pembuktian bahkan sampai ke nota makan!

5.          Kerjanya harus di desa-desa ya?
Tergantung jenis NGO nya dan level intervensi. Tidak semua NGO bekerja di rural area, ada yang di urban bahkan ada yang bekerja di level lintas negara. Kalau memilih pendekatan pengembangan masyarakat umumnya memang lebih banyak bekerja di pedesaan, karena hal itu memang masih dibutuhkan di level desa. Jadi ya tidak selamanya kerja di NGO = kerja di desa. Kembali lagi ke organisasi dan level intervensi nya. Umumnya sih tahapan kerja di NGO yang afdol ya mulai dari lokal/rural, naik ke level provinsi , sampai ke nasional, kalau bisa ke Internasional
Salah satu wilayah layanan


6.       Kerjanya ngebantuin orang susah, asyik dong kerja sosial dibayarin
Kerja sosial itu tak seindah foto-foto bersama anak-anak di desa atau foto pemandangan alam. Sebagai profesional, kami punya banyak target dan itu harus dikerjakan untuk masyarakat. Pekerjaan kami juga bukan hanya bertemu masyarakat di lapangan, mendengarkan curhat atau live in. Di kantor kami juga punya sederet tanggung jawab administrasi seperti membuat proposal, memasukkan request uang, memesan pembelanjaan, transportasi, dan laporan pertanggung jawaban. Kami tidak punya sekretaris atau admin khusus. Jadi bisa dibayangkan apa saja yang menjadi tanggung jawab kami.

7.       Lihat IG kamu kayanya jalan-jalan mulu, foto-foto di pantai dan gunung
Itu Cuma sedikit keberuntungan yang menjadi beban juga. Kebetulan saya bekerja di level provinsi sehingga banyak support ke rural artinya saya berkeliling ke kabupaten lain di NTT. Di tengah-tengah perjalanan alias travel maka saya menyempatkan diri untuk berkunjung ke obyek wisata dan kebetulan saya tinggal di provinsi yang paling banyak tempat hits nya. Kalau foto di instagram pastinya selalu cantik dan tidak mungkin juga saya membagi segala beban drama ketika bekerja di sosmed. Karena hidup tak seindah di instagram.


Nyempatin diving di Kepulauan Komodo setelah kerja seminggu di Labuan Bajo


8.       Butuh skill dan pendidikan apa sih buat kerja di NGO?
Kalau untuk background pendidikan sih tergantung dengan project intervensi. Kalau intervensi teknis semacam pembangunan fisik, survey alam, atau medis tentunya butuh tenaga ahli dengan background pendidikan yang relevan namun untuk hal-hal sosial atau analitis sih tidak mengikat ke 1 bidang ilmu. Siapa pun bisa asalkan mempunyai pengalaman terkait dengan sektor intervensi, di NGO sendiri saya menemukan bahwa kolega saya berasal dari berbagai latar belakang pendidikan mulai dari teknik, kesehatan, ekonomi, kesejahteraan sosial bahkan seperti saya, alumni Hubungan Internasional yang sekarang berpikir di level desa. Untuk skill, yang paling penting adalah kemampuan untuk mau belajar segala hal dan terbuka untuk segala perubahan.
Salah satu contoh project pengembangan pertanian organik dan kebun gizi

9.  
9.   Lingkungan kerjanya bagaimana?
Umumnya lingkungan kerja NGO memang berbeda jika dibandingkan dengan pemerintahan. Karena struktur nya tidak terlalu besar, maka tidak terlalu besar pula ‘’Power Distance Index’’ yang ada. Belum lagi kita juga harus berkomunikasi dengan masyarakat, tentu harus membuat segala sesuatu menjadi sederhana, mudah dipahami dan menarik. Jadi lingkungan kerjanya relatif lebih santai, penampilan santai, dan cara komunikasi dengan atasan ataupun peer tidak terlalu formal. Apalagi ketika pertemuan ataupun learning, kita akan selalu menggunakan metode bermain, warna, dan gambar. Asyik gak?


Selesai penat training bersama masyarakat, cewe/cowo lapangan bergegas mencari bukit yang instagramable


10.   Pakaianmu santai mulu?
Kalau tidak berurusan dengan mitra seperti pemerintah atau donor, maka bisa dipastikan kami akan memilih bekerja dengan kaos dan celana jins karena itu adalah kostum paling nyaman untuk bekerja di lapangan ataupun kantor. Pakaian seperti itu sederhana dan pastinya tidak jauh beda dengan yang digunakan masyarakat. Bukan karena kami cuek atau tidak rapi tapi memang pakaian itu yang relevan dengan pekerjaan yang dilakoni. Makanya ketika datang ke kantor dengan pakaian rapi pasti teman-teman kantor akan berucap "Kamu mau ketemu mitra di dinas mana?"


Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments

In gender menulis patriarki refleksi

Kenapa Kamu (disuruh) Menikah?



Tulisan ini dibuat bukan karena saya anti pernikahan atau melarang orang lain menikah. Sebuah catatan keresahan melihat trend kampanye nikah dan pelemahan diri beberapa pihak yang seakan-akan merasa tak berharga karena belum menikah. 

1. Supaya tidak sendiri

Manusia adalah makhluk sosial, memang benar tidak mungkin hidup sendiri. Tetapi definisi hidup sendiri bukan Cuma berpasangan dengan suami/istri. Saat ini pun kamu pasti punya saudara, sahabat, rekan kantor, teman, bahkan para driver online belum lagi teman di dunia maya.

2. Supaya ada yang urus

Bukannya sejak kecil sudah diajari untuk mandiri? Tanpa pasangan pun kamu sudah survive sejak kuliah dan bekerja terus kenapa giliran makin dewasa minta diurusin? Trus maksudnya diurusin apa sih? Butuh yang bersihin rumah dan masak? Silakan kontak penyalur PRT atau paling gampang tinggal buka aplikasi Go dalam smart phone mau apa saja bisa dilayani.

3. Untuk membahagiakan orangtua

Standar ya pasti orangtua ingin anaknya bahagia dan cara satu-satunya adalah menikah karena menikah=bahagia. Tapi coba diingat-ingat bukannya orangtua sudah bahagia dengan punya anak dan bisa punya kehidupan yang baik. Katanya kasih orangtua sepanjang jalan tak terbalas, loh kok nuntut dibahagiakan lagi dengan pernikahan anaknya. Buat yang single, ingat segala pemberianmu kepada orangtua tidaklah berarti sebelum kamu memberikan menantu bagi mereka!

4. Untuk bahagia

Defenisi bahagia itu banyak, salah satunya menikah. Terbukti di ucapan selamat, selalu ada tulisan “Selamat Bahagia” tapi ingat itu Cuma salah satunya! Ada banyak jalan menuju bahagia, dan tiap orang punya jawabannya masing-masing.

5.  Untuk melanjutkan keturunan, kemudian pakai ayat “Beranak cuculah,   berkembang biak,       penuhilah bumi… bla…bla…bla…”

 OK, habis menikah emang biasanya pasti mendapatkan pertanyaan kapan punya anak? Sayangnya kita belum bisa memprediksi berhasil punya anak dalam waktu kapan dan ini sungguh menjadi pertanyaan mengerikan bagi beberapa orang. Anak adalah anugerah Tuhan dan kita tidak bisa memprediksi dianugerahkan kapan atau bahkan mungkin tak ber hak. Lantas kalau nanti ternyata tidak sesuai harapan, mau salahkan siapa??? Tuhan?

6. Memuluskan jalan ke surga

Serem yak, ternyata menuju surga emang bener-bener ribet. Ga cukup jadi orang baik bahkan status single dan menikah juga menentukan. Kasihan banget ya kalo nanti ternyata pas kiamat atau meninggal masih status single bakal lama ngantri nya di pintu surga. Ternyata nasib jadi single emang ga enak, di dunia dihakimi sampai pintu surga juga begitu.

7. Menghindari zinah

    Zinah dan dosa lainnya itu ada sejak dalam pikiran, misalnya ketika lihat cewe cantik kalau reaksinya “Wahh dia cantik deh” itu kan bentuk memuji, tapi kalau jadi “Wahh dia cantik, pengen colek atau godain” itu namanya dosa. Jadi menikah bukan bentuk menghindari zina, coba tanyakan pada diri sendiri untuk mengetahui niat awal saat menikah

8. Bisa pacaran halal

Ohh ya, hestek kekinian ini lagi rame banget di instagram. Ribet emang hidup di Indonesia, pacaran aja pake sertifikat halal trus yang haram bakal neraka lagi dong??? Panasss! Kita ini masih sama-sama manusia  ga perlulah labeling kaya makanan yang kudu diuji berkali-kali demi keamanan hidup manusia lainnya. Mau pacaran bagaimana juga ya monggo, yang penting bertanggung jawab ga perlu halal haramnya.

9. Hidup lebih tenang

    Yakin abis nikah jadi makin tenang? Hidup sendiri udah cukup ribet apalagi kalo harus berdua, belum lagi setelah nikah harus mikirin urusan keluarga sendiri sampai keluarga besar. Menyatukan 2 keluarga terlebih kalau kamu masih orang Indonesia justru menghasilkan pertanyaan template lebih banyak lagi. Hidup berdua juga otomatis kebutuhan rumah tangga akan meningkat sehingga butuh teknik khusus untuk mengelolanya bukan sebagaimana seorang single.

10. Supaya cepat kaya

  Bersyukurlah kalau pasanganmu memang orang kaya tapi sayangnya jumlah orang kaya itu juga terbatas, Negara kaya juga masih sedikit dibandingkan Negara miskin atau Negara berkembang. Saran saya kalau pengen cepat kaya, silakan bekerja lebih keras supaya menghasilkan pemasukan yang lebih tinggi dan berhemat sebisa mungkin supaya saldo tabungan bertumbuh, investasikan penghasilanmu, mulai bisnis, focus pada diri sendiri. Yakinlah bahwa kaya bukan sekedar mimpi (Enak ya jadi motivator cepat kaya)

11. Mengakhiri drama hidup seorang single

 Jadi single emang ribet tapi percayalah menikah juga tak kalah ribet dengan kehidupanmu sebelumnya. Semua manusia butuh panggung untuk menjalankan drama hidup dan apabila merasa panggung dan drama saat ini kurang menantang, mungkin sudah saatnya kamu mencari panggung baru dan melatih kemampuan drama yang lebih tinggi di sana. Menikah juga sama drama nya dengan kehidupan single, bukan mengakhiri tetapi membawa mu ke drama babak baru.

12. Pengen punya kisah hidup seperti Princess Disney dan buku dongeng , “Mereka pun menikah dan hidup bahagia”

Betapa dongeng-dongeng masa kecil mengkonstruksi pola pikir kita bahwa menikah adalah akhir bahagia dari semua perjuangan. Seorang putri yang berjuang, memasak, menyanyi, bahkan punya kekuatan super akan ditaklukkan oleh seorang pangeran berkuda putih dan hidup dalam istana. Tidak pernah ada dongeng yang menjelaskan kehidupan seorang putri setelah dipersunting, ribetnya hidup dalam istana dan terpenjara. Untungnya saat ini Disney sudah menghasilkan tokoh perempuan yang powerful dan tak melulu menjual kharisma sang pangeran

13. Menikah adalah simbol kesuksesan

      Sama seperti bahagia, setiap orang juga mempunyai pemahaman sukses nya masing-masing. Menikah bukanlah perlombaan atau jenjang karir yang harus dicapai setiap tahunnya. Setiap orang pasti berjuang untuk kehidupan, dan tak selalu harus dinilai dengan indikator menikah. Banyak orang yang tidak menikah justru berbuat besar bagi orang lain bahkan berkontribusi di level dunia. Apakah mereka tidak sukses?

14. Supaya bisa punya foto keluarga lengkap, happy dengan anak cucu ala-ala iklan sirup lebaran

      Ketahuilah bahwa keluarga sesungguhnya bukan terlihat dari foto kumpul-kumpul saat hari libur, tetapi perjuangan saat melaluinya. Menghasilkan anak-anak dan keluarga happy tentunya butuh usaha dan dana besar. Yang hobi nyuruh nikah kira-kira tahu gak ya ribetnya tuntutan hidup saat ini belum lagi indicator kesejahteraan anak dan keluarga??? Emang buat memenuhi itu cukup dengan niat nikah (yang lebih sering diburu-buru), cinta dan kegalauan? Sepertinya tidak

15. Supaya ngerasain jadi raja dan ratu sehari di acara pernikahan, bosen jadi tamu kondangan, pengen bridal shower pake dresscode putih, makan kue bridal shower bentuk penis, upload foto ala candid di instagram, instastory sampe mabok, dihalalin, dll

      Selamat anda menjadi korban sosial media!

MENIKAH BUKAN LIFEGOALS SEMUA ORANG!
Menikahlah ketika kamu sudah selesai dengan dirimu, siap menjalani tahapan baru, dan memahami bahwa menikah akan membawa mu menuju tanggung jawab baru menghasilkan keluarga utuh dan berkontribusi untuk membangun dunia yang lebih baik. Bukan karena pertanyaan dari lingkungan ataupun karena tuntutan sosial media.

Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments

In gender menulis merenung patriarki

DIRUGIKAN OLEH PATRIARKI

Gambar dari sini

Berbicara mengenai patriarki dan sederet keburukannya biasa dianalogikan kepada para perempuan yang terpaksa harus selalu kalah dengan laki-laki, berkompetisi tidak sehat, mendapat stigma dan sejuta hal lainnya. Suatu sore di kota kecil ini, saya dan seorang teman laki-laki sepulang menikmati keindahan pantai di akhir pekan awalnya berdiskusi di mobil mengenai investasi dan hobi. Sebagai pekerja entry level, tentunya kami sedang dalam tahap belajar berinvestasi untuk masa depan. Sempat menyebut beberapa produk investasi dan akhirnya terbitlah ucapan mengenai “RUMAH”. Si lelaki mengatakan bahwa sudah saatnya dia berpikir untuk memulai DP Rumah selayaknya seorang lelaki yang harus memikirkan persiapan rumah jika nanti menikah. Sempat terucap bahwa, “Lo sih enak bisa habisin duit buat biayain hobi diving, gak usah mikirin beli rumah”.  Saya tidak langsung merespon dengan marah layaknya seorang feminis radikal.

Saya kemudian memancingnya untuk berpikir, “Sadarkah kita bahwa hal tersebut merupakan tuntutan social yang diciptakan oleh masyarakat sendiri padahal laki-laki dan perempuan sama-sama bekerja?”. Kemudian dia juga mengungkapkan hal yang sama, mengapa laki-laki seolah mendapatkan tekanan lebih secara ekonomi dan posisi kekuasaan. Saya kemudian memperkenalkan istilah Patriarki yang menghasilkan tekanan aneh tersebut dan lihatlah bahwa Patriarki tak melulu merugikan perempuan sebagai pihak yang diklaim inferior, nyatanya kaum superior pun merasakan hal yang sama. Mengenai rumah, siapa pun berhak untuk mempunyai rumah selaku bagian dari kebutuhan primer manusia bukan karena jenis kelaminnya. Selama anda masih menjadi manusia tentunya wajib memiliki tempat tinggal dan sampai hari ini saya belum pernah menemukan brosur KPR yang menuliskan syarat “Pemilik harus Laki-Laki”.

Lihatlah betapa sesungguhnya Patriarki menjadi alat penekan bagi para lelaki single yang juga saat ini masing berjuang untuk membayar sewa kamar, tagihan kartu kredit, cicilan motor, makan, dan nongkrong akhir pekan harus ditambah pula dengan tekanan mempunyai rumah sebelum menikah. Jika memang niat memiliki rumah datang atas kesadaran pribadi tentunya sangat baik akan tetapi betapa malangnya jika keinginan itu terpaksa muncul karena tekanan sosial keluarga ataupun pacar. Di lain pihak, lihatlah di media sosial banyak sekali meme yang tersebar sebagai media hiburan yang kurang lebih menyatakan bahwa laki-laki harus mampu secara financial supaya perempuan dapat menikmatinya untuk shopping. Para perempuan pun dengan semangat menyebarkan meme tersebut mungkin memotivasi para lelaki untuk bekerja lebih keras karena gaji perempuan sendiri tidak akan pernah cukup bila hasrat shopping itu muncul. Perempuan dianalogikan sebagai makhluk penyedot uang dan penagih jalan-jalan padahal para perempuan juga mampu membeli barang impiannya dengan uang sendiri dan traveling dengan biaya pribadi.


Lihatlah bahwa Patriarki memunculkan banyak tekanan dan standar sehingga sebagai manusia tidak perlu kita tambahi dengan tuntutan ini itu. Segala sesuatu bisa dinegosiasikan dan disepakati, silakan berbagi peran dan tak perlu saling menekan atau menyalahkan. Jika ingin setara maka perlakukan lah laki-laki dan perempuan sama baiknya seperti halnya ketika berbagi peran untuk membayar tiket bioskop dan makan malam di akhir pekan. Bayarlah karena anda memang mempunyai uang dan niat untuk mentraktir pasangan atau teman bukan karena tekanan patriarki.

Kita setara (walau masih berproses)
Pritta Damanik
Juli 2017

Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments

In diving NTT traveling

Diving di Taman Nasional Komodo

Lama tak berkunjung ke kedalaman, di bulan April kemarin saya mendapatkan jadwal pertemuan di Labuan Bajo. Sudah beberapa kali kesana tetapi aktivitas yang saya lakukan hanya wisata kuliner dari café ke café dan island hopping LOB. Dalam kunjungan kali ini saya ingin merasakan menyelam di Komodo dan kemudian membuat janji dengan seorang teman (Prilli) yang juga hobi diving. Kami pun menyusun rencana setelah menyelesaikan pekerjaan. Sepanjang jalan di Kampung Tengah alias Kampung Bule Labuan Bajo banyak dive center dan agen open trip, sehingga kita memiliki banyak pilihan. Kami memilih Dive Komodo silakan klik linkberikut, yang berada di seberang Homestay Gardena dengan pertimbangan si teman sudah pernah menggunakan service mereka dan ada trip yang tersedia di hari yang kami butuhkan. Disitu juga kami mengisi declaration form dan menunjukkan diving license, Dive Master sempat menanyakan sudah diving berapa kali sebelumnya. Adapun dive spot yang akan kami selami yaitu Siaba Besar, Siaba Kecil, dan Mawan. Kami tidak mendapatkan Batu Bolong yang menjadi poin utama dari TNK.



Di sore hari kami datang dan melakukan fitting untuk alat yang akan digunakan esok harinya, alat-alat tertata rapi dan bersih di dalam penyimpanan. Pagi harinya kami check out dari Hotel Luwansa, berpindah ke Bajo Hotel dan langsung berjalan kaki menuju dive center pukul 07.00. Kami sempat menunggu 15 menit di dive center sebelum berjalan ke pelabuhan. Kami memasuki kapal dan mendapatkan briefing dari Dive Master sebelum kapal berjalan dan apa saja yang harus kami persiapkan. Informasi yang diberikan semuanya dalam Bahasa Inggris berhubung hanya ada 2 orang diver yang dari Indonesia (yaitu kami ber 2) selebihnya adalah turis asing. Total peserta dive kali ini sebanyak 8 orang dan ada 3 orang yang masih harus mengambil refresh. Mereka yang terakhir kali menyelam lebih dari 6 bulan terakhir harus mengambil refreshment yaitu pengenalan kembali dan ada test tertulis untuk mengingatkan tentang teori. Untungnya terakhir kali saya diving di bulan Desember 2016, sehingga tidak perlu mengambil refreshment lagi.

Penyu di Siaba
Saat turun di spot pertama, saya masih harus mengumpulkan keberanian untuk entry dengan cara giant strike karena selama ini terbiasa turun dengan gaya seated. Akhirnya saya berani dan masuk bersama dive master dan teman saya Prilli. Kami mulai turun dan dapat melihat cukup terang karena visibility yang baik dan masih melihat pasir, 15 menit kemudian kami mulai melihat terumbu karang berwarna-warni dan PENYU. Ya, Siaba merupakan habitat baik penyu hijau. Saya yang sebelumnya tidak pernah melihat penyu di habitat asli pun langsung kegirangan karena bisa melihatnya bukan hanya 1 tetapi sampai di 5 titik sekaligus! Terumbu karangnya masih sangat alami dan membuat saya benar-benar merasa sedang berkelana di taman bunga yang cantik. Terjadi kejadian lucu di dive kedua, saya yang tak biasa diving di kondisi arus cukup kaget ketika melewati wall yang arusnya kencang dan malah berusaha melawannya yang malah membuat saya menjauh dari buddy. Akhirnya saya sudah mulai menikmati arusnya, malah merentangkan tangan seolah-olah sedang terbang. Kami sempat bertemu dengan seekor pari tutul dan Crocodile fish yang aneh disini. Setelah menyelesaikan dive pertama, kami menikmati makan siang yang enak di kapal. Makanan dan minuman yang disedikan rasanya enak dan tidak kekurangan. Untuk snack di pagi hari ada donat dan pisang kemudian di sore hari tersedia biscuit. Air mineral, kopi, teh tersedia selalu dan silakan meraciknya sendiri.
Crocodile Fish alias Ikan Buaya


Sebelum turun di dive spot terakhir, kami mendapatkan briefing bagaimana cara berinteraksi dengan manta. Dive Master melarang dengan keras untuk berada terlalu dekat di depan manta dan tegas mengatakan tidak boleh menyentuh manta ataupun Cleaning Station. Apabila ada yang melakukannya maka kita akan langsung kembali ke atas. Mawan sendiri adalah Cleaning Station milik manta, artinya Manta datang ke titik ini untuk membersihkan dirinya (mandi) di beberapa coral langganan nya. Di TNK sendiri biasanya ada 2 tempat untuk melihat Manta Ray yaitu Manta Point sebagai tempat makan dan Mawan tempat mandi. Kami menyelam cukup lama dan harus melawan arus yang cukup melelahkan dan hasilnya tidak ada manta yang bisa kami temukan. Saya sempat melihat sekelebat bayangannya tetapi tidak menemukannya kembali. Tak apalah, yang penting saya sudah pernah bertemu Manta walaupun saat itu hanya dengan freediving.

Menyelam di antara Bumphead Parrot Fish
Warna-Warni di Siaba Kecil
Manta Ray di Manta Point tahun lalu :(

Selesai menyelam, kami naik kembali ke kapal mencopot peralatan dan mengeringkan badan dengan tiduran di deck atas kapal. Pukul 17.00 kami sudah kembali merapat ke pelabuhan di Labuan bajo, kembali ke dive center untuk meminta stamp di logbook masing-masing. Overall saya sangat puas dengan service yang diberikan oleh Komodo Dive dengan harga Rp 1.500.000 mendapatkan 3x dive, pelayanan kru yang mengurus hingga printilan seperti langsung merapikan alat dan menyusun sesuai dengan nama diver. Sehabis menyelam kami kembali ke penginapan, mandi dan kemudian buru-buru mencari makanan karena rasa lapar yang luar biasa. Diving ke 3 dalam pencarian manta menguras energy luar biasa dan saya masih harus berjalan kaki ke Kampung Ujung untuk bertemu teman dan kemudian menghabiskan makanan yang sangat banyak. Sungguh saya belum pernah merasa se lapar itu

Wajah Kelaparan

Read More

Share Tweet Pin It +1

2 Comments

In diving majalah menulis traveling

Menyelam Lebih Dalam di Kupang on Awksmag

Siapa menyangka bahwa dari sebuah chat random yang mampir di inbox instagram kemudian meminta saya untuk menulis tentang pengalaman menyelam menghasilkan tulisan pertama saya yang dimuat di sebuah Free magazine indie. Sungguh saya sebenarnya kurang percaya diri menulis tentang diving sementara log diving masih sangat minim dan baru menyelam di Kupang. Tapi biarkanlah saya menuliskan pengalaman dari seorang pemula, siapa tahu ada beberapa calon pemula yang ingin mencoba nya.

Sila cek di link Awksmag berikut

https://issuu.com/awksmag/docs/_7_awksmag_obsession?e=23211328/40763124

Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments

In NTT traveling video vlog

2nd VLOG - Sailing Labuan Bajo Day 1



Membuat travel vlog untuk perjalanan Sailing Labuan Bajo di Hari Pertama.

Adapun itinerary nya:

1. Kanawa Island
2. Kelor Island
3. Sembilan Island - Jellyfish lake
4. Rinca Island
5. Kalong Island

Taken with : Gopro Hero 4 Silver
Edit : Gopro Studio

Song :
Beautiful Day - U2
Don't wanna know - Maroon 5
Happy background music
Happy ukulele
Carefree - Kevin Mc Leod

Please enjoy my video and don't forget to subscribe

Thankyou


Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments

In healthy kupang yoga

Tentang Yoga


Di saat masih berkuliah di Kota Bandung, saya sempat tertarik untuk mengikuti yoga namun ntah mengapa saat itu saya lebih memilih untuk keluar masuk gym mengikuti kelas aerobic atau mengangkat beban. Selama kurang lebih 2 tahun dengan terputus-putus di tengah jalan, saya sesungguhnya menikmati berolahraga dalam ruangan sambil memandangi cermin atau pria-pria dengan lengan menggoda :D.  Berpindah ke Kupang, saya mulai kehilangan rutinitas nikmat tersebut karena intensitas travel yang sangat tinggi dan belum memiliki kendaraan. Saya hanya mencoba jogging di Taman Nostalgia Kupang atau Lapangan Polda NTT dan berenang setiap minggu di Hotel On The Rock. Di suatu hari bulan September 2015, seorang teman penggila gym dan body obsession mengatakan bahwa di tempat fitness nya membuka kelas yoga. Tanpa pikir panjang, saya pun memacu sepeda motor dan menanyakan jadwal kelasnya. Oke jadwal cocok.

Side plank pose


Di kelas pertama, saya masih kebingungan dan berusaha mengikuti flow nya. Beberapa gerakan pemanasan ternyata sama dengan body weight training yang pernah diajarkan oleh instruktur fitness saya seperti plank dan side plank. Tiba di challenge pose, kami ditantang untuk melakukan sikap lilin (shoulderstand)  dan kemudian mendorong kaki hingga menyentuh lantai. Surprisingly, saya bisa melakukannya tanpa halangan sedikit pun. Di percobaan pertama saya langsung bisa melakukan plow pose atau halasana. Saya pun meminta difoto dan di akhir kelas, sang instruktur mengajak saya berkenalan kemudian kami ber pigeon pose (ekapada raja kapotasana) dan saya bisa melakukannya dengan baik.

Eka pada rajakapotasana



Saya mulai berkomitmen dengan bergabung sebagai member di Extreme Gym Kupang dan mengikuti kelas yoga. Saya mulai memahami bahwa gerakan yoga tak semudah yang dipikirkan dan bagaimana menikmati proses nya. Saya belum pernah merasakan olahraga yang mengucurkan keringat sebanyak yoga dan benar-benar tertantang untuk mengikuti setiap tahapan gerakannya. Disini pula saya bertemu dengan banyak orang yang juga baru mulai belajar dan melihat kemampuan yang berbeda-beda. Di akhir kelas, terkadang kami mengobrol dan berfoto dengan pose-pose yang terinspirasi dari instagram. Hampir setahun saya mengikuti yoga dan suatu hari sempat iseng berucap kepada si instruktur, “Fokus saja, jangan kemana-mana supaya nanti bisa buka studio sendiri”. Beberapa bulan kemudian, si instruktur mengumumkan bahwa dia akan membuka studio sendiri dan akan ada macam-macam kelas.



Setahun lebih saya sudah mengikuti yoga, meskipun tak selalu rutin dan masih jauh dari kata sempurna sambil  saya juga berusaha menerapkan pola makan sehat, memasak sendiri, dan menghilangkan nasi. Banyak yang bertanya, “sudah turun berapa kilo?” “kenapa tidak ada perubahan?” Saya hanya ingin tertawa, ternyata cara pandang hidup sehat hanya dimaknai penurunan kilogram di timbangan. Ingin rasanya tertawa tetapi saya rasa tidak perlu, biarlah mereka menilai demikian yang penting lingkar pinggang saya kian berkurang setiap tahun, hasil lab medcheck bersih dari tanda bintang, kemampuan berenang dan lari yang kian meningkat, serta tak pernah sakit berarti selama setahun. Bukan kah hal itu lebih pantas untuk disyukuri? Saya juga sangat bersyukur bisa menemukan jalan untuk menemukan studio yoga di kupang dan bertemu dengan teman-teman baru di tempat ini yang juga menjadi partner untuk berproses lebih baik lagi saat yoga.

Acro yoga bersama si instruktur

 Terlepas dari kontroversi yang mengatakan bahwa yoga bukanlah bagian dari olahraga, tetapi saya belajar banyak hal dari yoga. Saya mulai memaknai pesan dari si instruktur bahwa Yoga adalah perjalanan, saya semakin mengenali diri saya ketika melakukan yoga. Banyak yang berkata bahwa tubuh saya cenderung lentur dan terbukti bahwa saya memang bisa kayang sejak SD hingga hari ini tetapi kelenturan di backbending bukan berarti saya mampu melakukan yoga dengan mudah. Ada banyak pose yang masih sulit untuk saya lakukan, tetapi saya masih mencoba dan menikmati setiap prosesnya yang membuat saya semakin mengenali diri sendiri. Yoga bukan sekedar melipat-lipat tubuh dan kemudian berfoto, ada banyak nilai yang bisa kita gali dan sungguh saya semakin penasaran dengan hal lain tentang yoga. Saat ini rasanya saya telah menemukan perjalanan yang menyenangkan bersama yoga, dan berusaha menularkannya pada orang lain meskipun sepertinya belum ada yang sukses tertular tetapi saya berani menyatakan bahwa saya jatuh cinta pada yoga.


Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments

featured Slider