In coretan novel sastra

Mencintai Karya Sastra Indonesia




Karya sastra merupakan suatu bentuk pemikiran seorang penulis yang mungkin jauh dari imajinasi kita sendiri, dan saya kerap kali merasa kagum ketika membaca sebuah puisi/prosa yang memuat kata-kata penuh makna dan menonjolkan realitas yang sebenarnya dekat dengan kehidupan kita sehari-hari. Saya memang hobi membaca, dan bahkan sejak dulu saya cenderung tidak pilih-pilih bahan bacaan, asalkan santai tanpa muatan ilmu tertentu biasanya akan saya lahap. Mulai dari majalah Bobo, Nova hingga koran lokal di Sumatera Utara dan saya bahkan bisa dikatakan tidak pernah memiliki Komik yang mungkin saat itu menjadi idola anak-anak seusia saya. Kegemaran saya membaca kemudian membuat saya menjadi melek akan problema sosial, namun kini saya menyadari bahwa saya adalah korban media, yang menganggap bahwa berita dari media adalah yang paling benar sekalipun sebenarnya saya belum pantas menikmati media cetak yang dimaksud.

Ketika saya mulai memahami penggunaan media internet di masa-masa SMA, saya pun mulai mengenal novel ataupun buku dalam bentuk e-book yang mudah untuk diakses. Saya pun mulai mencoba untuk mencari-cari novel rekomendasi teman dan membacanya dihadapan Personal Computer satu-satunya yang saya miliki di zaman itu. Mungkin tadinya saya membaca sebuah karya sastra dan meniliainya hanya dari sebuah jalan cerita yang mampu atau tidak untuk saya pahami. Di masa-masa kuliah dan setelah hebohnya dunia pertwitter an saya pun tertarik untuk coba-coba membaca beberapa novel yang sebenarnya sudah ketinggalan zaman namun sempat heboh karena film "Sang Penari" yaitu Trilogi Ronggeng Dukuh Paruk karya Ahmad Tohari. Alur dan setting yang sangat oldies memang membuat saya sempat merasa bosan, tetapi ketika mulai mendapat "feel" dari cerita tersebut saya pun semakin penasaran dan tidak menyangka bahwa ternyata udiknya Dukuh Paruk membawa saya pada sebuah pembongkaran sejarah masa-masa PKI. Saya yang dulunya tidak paham alasan apa yang membuat pemerintah masa Orde Baru melakukan pelarangan berkesenian seketika disadarkan oleh tertangkapnya "Srintil"yang sedang menari dan dianggap sebagai antek PKI. Memori saya seakan disadarkan kepada sebuah sejarah dan kejamnya rezim masa itu terlebih lagi status Tahanan Politik yang dilabelkan pada mereka.

Saya merasa begitu kaget ketika menemukan pembelajaran sejarah yang terkandung dalam sebuah novel, dan saya pun mencoba flashback dan mengingat bahwa di masa SMP dulu saya sempat membaca novel Layar Terkembang karya Sutan Takdir Alisyahbana yang saya rasa sangat sulit untuk dipahami anak seusia itu. Namun kini saya merasa begitu bersyukur sempat membaca novel terbitan Balai Pustaka tersebut, saya mengingat bagaimana kehidupan para akademisi di masa pendudukan Belanda dan saya merasa bahwa pengorbanan cinta Tuti, Maria dan Yusuf lebih realistis dibanding dengan romantisme berlebihan yang ada pada kisah Romeo dan Juliet. Buku bermuatan historis selanjutnya yang saya pilih adalah "Panggil Aku Kartini Saja" karya Pramoedya Ananta Toer disini saya menemukan sisi lain Kartini yang mungkin terlalu kita sanjung, namun dalam diri Kartini sendiri dia menganggap perjuangannya biasa-biasa saja dan dari sinilah saya memahami budaya keraton yang jelas berbeda jauh dengan kebudayaan saya yang asli suku Batak. Saya juga memandang cara perjuangan Kartini melalui surat-menyurat dengan seorang Nyonya Belanda merupakan sebuah bentuk perjuangan yang soft namun mengena dan sangat elegan dibandingkan dengan saat ini.

Saya pernah mencoba menceritakan pengalaman saya tentang pengenalan sejarah melalui novel Indonesia kepada beberapa orang teman, dan mereka tidak menyadari manfaat membaca karya sastra Indonesia dan makna tersirat apa yang ada di dalamnya. Bahkan ketika saya mengutarakan niat untuk meminjam novel yang bermuatan fiksi historis dari perpustakaan kampus seorang teman berkata demikian, " Apa? Sejarah Indonesia? Iihhh boring abisss" Saya ingin tertawa sekeras-kerasnya mendengar pernyataanya, namun saya tetap berusaha menjelaskan bahwa kita perlu mengenal sejarah bangsa kita dan memahami apa itu nasionalisme dari hal-hal kecil seperti ini. "Daripada pusing-pusing baca buku sejarah, mending kita baca novel-novel asli Indonesia yang isinya bagus dan pastinya mendidik." ucapan tadi terdengar dari mulut Daniel Mahendra ketika kami mengadakan acara Talkshow "One Word Big Change" di kampus tercinta, seorang penulis yang juga mengimbau generasi muda untuk lebih berniat membaca dan menulis agar kelak bangsa kita lebih peka dan menghasilkan penulis yang tentunya mampu berkontribusi bagi negeri ini.

Ingin rasanya membuat Kampanye Cinta Karya Sastra Indonesia, banyak manfaat yang bisa kita petik dari karya-karya penulis kita yang luar biasa. Memahami sejarah dan budaya bangsa adalah suatu kewajiban bagi seorang yang mengaku Warga Negara! Ingatlah bahwa tidak selamanya hal-hal berbau asing, internasional dan sophisticated itu selalu lebih baik, kita punya budaya, cerita asli, makanan, sejarah yang harus dilestarikan.Cobalah untuk memulai pengenalan terhadap karya sastra Indonesia yang pastinya jauh lebih bermutu daripada menyaksikan wajah pertelevisian kita yang kian memprihatinkan. Alur cerita yang berbagai macam tentunya juga akan memancing analisis anda dan mari kita memutar otak di dalam sebuah buku fiksi yang memuat pesan-pesan penting bagi pembaca. Aaahh saya berjanji akan terus menggali novel-novel bermuatan historis Indonesia...Bagaimana dengan anda? Saya tunggu!


Related Articles

0 komentar:

Posting Komentar

featured Slider